Konsep Pendidikan Ust. Abdullah Said

Ustadz Abdullah Said (Allahu Yarham), pendiri dan pimpinan Pondok Pesantren Hidayatullah kala itu, mempunyai obsesi yang sangat besar dalam mewujudkan sebuah lembaga pendidikan yang unggul, yang bisa melahirkan mujahid dan mujahidah yang amanah dan mandiri.
Dalam menggapai cita-cita besar ini, beliau mengambil referensi utama dari perjalanan Nabi kita Muhammad Saw di masa kecil hingga diangkat oleh Allah SWT menjadi nabi dan Rasul. Dalam kajian Pesantren Hidayatullah dikenal dengan Sistematika Nuzulnya Wahyu pada fase pra Wahyu.
Dalam hal ini, obsesi Allahu yarham adalah bagaimana memetik pelajaran dari kondisi yang dialami Nabi Muhammad SAW sebelum menerima wahyu untuk dijadikan bahan pembinaan. Karena menurut pendapatnya Allah SWT yang merekayasa kondisi tersebut sebagai bentuk pengkondisian merasuknya wahyu dalam diri Nabi Muhammad. Kondisi yang dimaksudkan adalah yang diistilahkan dengan fase–fase yatim, menggembala, berdagang, ber-Khadijah dan ber-Gua Hira.

Keyatiman
Setiap episode prikehidupan Nabi Muhammad SAW sebelum terutus sebagai rasul berkaitan benar dengan tugas risalah yang akan diemban. Satu misal kasus “keyatiman”. Sejak usia dua bulan dalam kandungan ditinggal mati sang ayah, disusul bundanya di usia enam tahun.
Pengaruh keyatiman pada diri Rasulullah sedemikian besar, terlihat secara jelas saat Beliau melangkah berjuang meruntuhkan pilar-pilar jahiliyah demi tegaknya Kalimatullah. Hal itu sangat sulit dilakukan manusia, kecuali mereka yang sudah menyiapkan diri bermental dan berjiwa tahan banting, disamping adanya kesabaran dan ketabahan yang ekstra tinggi.
Keyatiman itu sempat membebaskan Muhammad dari ketergantungan kepada siapapun kecuali kepada Allah. Dari detik ke detik pertumbuhan fisik dan mentalnya berada di bawah pantauan Allah. Diapun selalu merasakan kehadiran Allah dalam dirinya, mengiringi setiap dengus nafas dan gerak-geriknya.
Keyatiman Nabi dengan segala nestapanya juga berhasil menumbuhkan “sensitivitas kemanusiaan” yang sangat tinggi. Hal itu besar sekali faedahnya sebagai modal kepemimpinan. Beliau tidak pernah mengungkapkan perasaan sebagai yatim piatu dengan maksud mengundang belas kasih orang lain. Keyatiman memang bukan untuk diratapi. Nesatapa derita keyatiman adalah energi yang tersimpan, modal untuk memimpin umat. Kelak beliau akan mudah memberi santunan kepada sesama yang senasib, seperti diri beliau.

Menggembala

Kalau dilihat dari status sosial penggembala kambing adalah sangat rendah kedudukannya di tengah-tengah masyarakat. Biasanya dilakukan oleh budak-budak. Ini sangat disadari oleh Muhammad. Tapi kenapa memilih pekerjaan ini ? Bermula dari keinginan untuk mendapatkan sumber pendapatan dari hasil cucuran keringatnya sendiri. Karena pamannya, Abu Thalib yang memelihra dia sangat memprihatinkan kehidupannya. Anaknya banyak dan tidak ada sumber hidup yang memadai. Memang Abu Thalib adalah pamannya yang paling tidak mampu dari semua saudaranya.
Kalau Nabi Muhammad SAW di usia remaja terjun menggeluti pekerjaan yang dianggap hina, tapi yang jelas pekerjaan itu produktif, maka santri-santri juga demikian halnya. Pekerjaan seperti mencangkul, membelah kayu bakar, membersihkan kolam, membantu tukang seperti buruh, dan lain-lain, awalnya memang terasa berat. Tapi lama kelamaan dengan gemblengan mental yang terus menerus dilakukan, dibarengi dengan pengarahan yang selalu memberi harapan kecerahan masa depannya sebagai calon pemimpin – akhirnya luluh juga. Mereka merasakan bahwa dengan menggeluti pekerjaan seperti itu dapat mengantarnya untuk mudah mendapatkan secercah petunjuk, karena kesombongan yang ada pada diri mereka pelan-pelan terkikis.

Berdagang

Muhammad tidak memiliki pengalaman sedikitpun dalam dunia dagang. Kecuali pada waktu ikut pamannya, Abu Thalib ke Syam. Beliau memberanikan diri membawa barang dagangan Khadijah Binti Khuwailid dengan bermodalkan etos kerja dan kejujuran. Manusia yang mendapat gelar Al-Amin (orang yang terpercaya) ini ingin mempertahankan predikat ini sampai kapanpun. Kalau dalam dunia dagang dikenal penuh dengan kebohongan dan kedustaan Muhammad ingin menyelami kehidupan manusia yang bergelut dalam dunia itu. Paling tidak untuk menambah pengalaman. Terbukti dengan caranya sendiri yang menjauhkan diri dari praktek-praktek kotor dalam dunia dagang, berhasil melariskan dagangannya Pedagang yang satu ini bahkan menjadi perhatian pasar. Karena sepanjang sejarah perpasaran barulah ada orang yang berdagang seperti itu. Berbicara sejujurnya, sopan dan santun kepada pembeli, murah senyum. Tidak sangar dan tidak bersuara keras apalagi berteriak. Akhirnya tempatnya ramai dikunjungi orang. Itu yang menyebabkan dagangannya paling cepat habis terjual. Keuntungan yang diperolah berlipat ganda banyaknya. Majikannya terperangah dibuatnya. Karena sepanjang perjalanan hidupnya dalam dunia bisnis baru kali inilah dia memperoleh keuntungan yang begitu banyak dalam waktu yang sangat singkat. Untuk menggali hal ini Maisaroh terpaksa diusut habis-habisan. Maisaroh menceritakan apa adanya yang dia lihat dan saksikan dalam transaksi jual beli yang dilakukan temannya itu. Menurut cerita Maisaroh, kalau Muhammad menjual dia jelaskan kepada pembeli kenapa ada yang dijual murah ada yang mahal. Dia terangkan dengan kata-kata yang jelas sambil tersenyum. Banyak yang membeli barangnya jauh lebih tinggi dari harganya dengan alasan, “Saya bukan membeli barangnya tapi membeli hati penjualnya”.

Tentang abumuthiah

I live in Balikpapan, Hidayatullah Education Center.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized dan tag . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s